Kota Denpasar
Kota
Denpasar merupakan ibu kota dari provinsi Bali, Indonesia. Denpasar merupakan
kota terbesar di Kepulauan Nusa Tenggara dan kota terbesar kedua di wilayah
Indonesia Timur setelah Kota Makassar. Hingga kini, kota Denpasar terkenal
sebagai pusat pariwisata yang terletak dekat pelabuhan atau Bandar Udara
lnternasional Ngurah Rai Kota Denpasar dan mengalami perkembangan yang cukup
pesat. Kota Denpasar berada pada ketinggian 0-75 meter dari permukaan laut, sementara
luas wilayah Kota Denpasar 127,78 km² atau 2,18% dari luas wilayah Provinsi
Bali.
Kota Denpasar
berasal dari 2 kata yaitu "den" yang berarti utara dan
"pasar" yang berarti pasar sehingga secara keseluruhan bermakna
"Utara Pasar". Asal kata ini menunjukkan asal kota sebagai kota
pasar, di tempat yang sekarang disebut Pasar Kumbasari atau sebelumnya di kenal
sebagai "Peken Payuk", di bagian utara kota modern. Ada pun pandangan
lainnya yang dilansir dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia bahwa asal usul nama Kota Depasar tersebut mengingatkan pada suatu
pola letak istana (puri) yaitu letak sebuah puri selalu berada di sebelah utara
pasar. Konon, nama Denpasar ini diambil berdasarkan letak puri yang selalu
berada di sebelah utara pasar.
Awal mulanya
kota Denpasar adalah sebuah taman, akan tetapi taman tersebut tidak seperti
taman pada umumnya. Hal ini karena taman tersebut merupakan taman kesayangan
dari Raja Badung saat itu, Kyai Jambe Ksatrya. Pada waktu itu, Kyai Jambe
Ksatrya tinggal di Puri Jambe Ksatrya, yang kini menjadi Pasar Satria. Taman
ini sangat unik karena dilengkapi dengan tempat untuk bermain adu ayam (tajen).
Dahulu kala, Kyai Jambe Ksatrya memiliki kegemaran bermain adu ayam. Oleh
karena itu, tidak jarang sang raja mengundang raja-raja lainnya di Bali untuk
bermain adu ayam di taman tersebut.
Kota
Denpasar didirikan oleh I Gusti Ngurah Made Pemecutan yang merupakan keturunan
dari Puri Pemecutan. Sebelumnya wilayah kota Denpasar merupakan pusat dari
Kerajaan Badung, sebuah Kerajaan Hindu Majapahit yang berdiri sejak abad ke-18 sampai
dengan abad ke-19. Dahulu kala, Kerajaan Badung dipimpin oleh dua kerajaan
yaitu Puri Pemecutan dan Puri Jambe Ksatrya. Menurut peneliti sejarah kota
Denpasar yang juga Guru Besar Sejarah Fakultas Sastra Unud, AA Bagus Wirawan,
di saat itu terdapat dua puri yang menandakan adanya dua pemerintahan yaitu
Puri Alang Badung dan Puri Pemecutan. Kedua pemerintahan tersebut sebenarnya
dipimpin oleh keturunan yang sama, yaitu Kyai Jambe Pule. Pembagian dari
keduanya pun dibagi per wilayah, dengan wilayah barat Tukad Badung yang dipimpin
oleh Puri Pemecutan, sedangkan sebelah timur Tukad Badung pimpin oleh Puri
Jambe Ksatrya.
Taman yang dibangun oleh Kyai Jambe Ksatrya yang kemudian dikenal sebagai Denpasar diambil alih dan dikembangkan sebagai pusat kekuasaan I Gusti Ngurah Made Pemecutan. I Gusti Ngurah Made Pemecutan menjadikan taman Denpasar sebagai lokasi puri. Akan tetapi Puri Denpasar dihancurkan oleh kolonialisme Belanda ketika terjadinya Perang Puputan Badung. Perang puputan bermula dari kandasnya kapal berbendera Belanda milik Kwee Tek Tjiang, Sri Kumala, di Pantai Sanur, malam hari 27 Mei ke dini hari 28 Mei 1904. Atas kandasnya kapal, Belanda menuduh penduduk desa di sekitar pantai itu menjarah muatan kapal. Dengan alasan penjarahan kapal, pemerintah kolonial Belanda menuntut raja Badung untuk membayar 3.000 ringgit. Namun, Raja Badung menolak. Raja Badung meyakini apa yang dilakukan tidak melanggar aturan.
Singkat
cerita, penolakan Raja Badung segera dijawab dengan aksi militer. Tak bisa
dipungkiri bahwa peristiwa Sri Kumala itu hanya sekadar alasan untuk
melancarkan ekspedisi militer terhadap Badung. Tujuan Belanda sebenarnya adalah
mewujudkan kekuasaan tertinggi atas semua daerah yang menolak tunduk, untuk melaksanakan kebijakan belanda “Pax Neerlandica”. Kendati demikian, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Joannes Benedictus
van Heutsz (1904–1909) mengirim surat lebih dulu kepada Menteri Jajahan pada
oktober 1905. Isi surat tersebut tak lain untuk meyakinkan sang menteri bahwa
Raja Badung perlu menyadari pemerintah Hindia-Belanda adalah “penguasa
sesungguhnya yang harus dipatuhi.”
Pada
tanggal 14 September 1906, sepasukan tentara dengan kekuatan substansial dari Koninklijk
Nederlandsch-Indische Leger, diberi nama Sixth Military Expedition,
mendarat di bagian utara pantai Sanur, dipimpin Mayor Jenderal M.B. Rost van Tonningen.
Tentara Badung melakukan beberapa serangan terhadap bivak Belanda di Sanur pada
15 September, dan ada beberapa perlawanan lagi di desa Intaran. Raja Badung
dari Puri Pemecutan, I Gusti Made Ngurah Pemecutan, memerintahkan untuk membakar
Puri sebelum melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda.
Pasukan berbaris ke Denpasar, Bali, seolah-olah sedang berpawai. Mereka mendekati istana kerajaan, melihat asap mengepul dari puri dan mendengar genderang ditabuh liar yang berasal dari dalam tembok istana. Pasukan Belanda bergerak maju mendekati Puri Pemecutan. Setelah mereka mencapai istana, prosesi tanpa suara muncul, dipimpin oleh Raja yang disungsung oleh empat pembawa tandu. Raja itu mengenakan pakaian kremasi putih tradisional, memakai perhiasan yang indah, dan membawa keris upacara. Orang-orang lain dalam prosesi itu terdiri dari para pejabat, penjaga, pendeta, istri, anak-anak dan pengawal Raja, yang semuanya berpakaian serupa. Mereka telah menerima ritus kematian, berpakaian putih, dan keris ritual mereka diberkati. Semuanya bergerak menyongsong kehadiran pasukan Belanda. Tembakan gencar kemudian dilepaskan pasukan belanda yang bertujuan membebaskan jalan didepannya dari serangan mendadak laskar Badung karena sejumlah laskar semakin mendekati kedudukan pasukan Belanda. Rombongan raja bergerak secara perlahan mendekati pasukan Belanda. Setelah posisi mereka sangat dekat dengan posisi pasukan Belanda, raja dan pasukannya bergerak semakin cepat dan langsung menerjang pasukan Belanda.
Para
prajurit Bali yang luka ringan pun menikam sampai mati rekan-rekan mereka yang terluka berat. Sedangkan kaum wanita mencoba membuka dada untuk mengakhiri
hidupnya. Ada pun sebagian para wanita melemparkan perhiasan dan koin emas ke pasukan Belanda
sebagai bentuk upah kematian mereka. Sebuah 'tembakan tak terarah' dan
'serangan dengan tombak dan tombak' mendorong Belanda untuk melepaskan tembakan
dengan senapan dan artileri. Semakin banyak orang yang keluar dari istana,
gundukan mayat semakin tinggi. Seluruh prosesi ini diikuti ratusan orang, dan
dikatakan ada lebih dari 1.000 orang secara keseluruhan. Korban bertambah
akibat tembakan Belanda.
Sejarah mencatat bahwa Belanda pertama kali menembaki orang Bali yang bergerak keluar dari gerbang istana, hanya dilengkapi dengan keris, tombak dan perisai tradisional, dan bahwa yang selamat bunuh diri, atau dibunuh oleh pengikutnya sesuai dengan perintah puputan. Para prajurit menelanjangi barang-barang berharga dan menjarah reruntuhan istana yang terbakar. Istana Denpasar rata dengan tanah. Sore pada hari yang sama, peristiwa serupa terjadi di dekat istana Pemecutan, tempat tinggal wakil penguasa I Gusti Made Ngurah. Belanda membiarkan bangsawan di Pemecutan bunuh diri, dan dilanjutkan dengan penjarahan. Pada pertarungan sengit itulah raja dan pasukannya gugur satu per satu. Akhirnya perlawanan laskar Badung di Pemecutan yang merupakan benteng terakhir terhenti. Belanda berhasil menduduki Puri Pemecutan.
Kerajaan
tersebut ditundukan oleh Belanda pada tanggal 20 September 1906, dalam sebuah
peristiwa heroik yang dikenal dengan Perang Puputan Badung. Pembantaian ini
dikenang dan dimuliakan sebagai bentuk keputusan dan perlawanan bersama terhadap agresi asing untuk
mempertahankan kedaulatan dari kolonial Belanda. Pada 12 November 1997, didirikan
sebuah monumen perunggu besar ditinggikan di alun-alun kota Denpasar, tempat
istana kerajaan dahulu berdiri, yang mengagungkan perlawanan Bali di Puputan, yang
kemudian dikenal dengan “Monumen Puputan Badung”.
Ada pun
monumen Bajra Sandhi yang didirikan untuk mengenang kejadian perlawanan di
Bali. Museum Bajra Sandhi atau yang lebih dikenal sebagai monumen Bajra Sandhi
adalah monumen yang melambangkan perjuangan rakyat Bali yang terletak di kota
Denpasar, Bali. Monumen yang menempata tanah 13,8 hektar dengan luas gedung
4900 meter ini dirancang oleh Ir. Ida Gede pada tahun 1981. Pembangunan monumen
mulai dilakukan pada tahun 1987 atas prakarsa mantan Gubernur Bali, Ida Bagus
Mantra. Pada tanggal 14 Juni 2003, monumen baru diresmikan oleh Presiden
Megawati Soekarno Putri.
Setelah
kemerdekaan Indonesia, berdasarkan Undang-undang Nomor 69 Tahun 1958, Denpasar
menjadi ibu kota dari pemerintah daerah Kabupaten Badung. Selanjutnya
berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor Des.52/2/36-136 tanggal 23
Juni 1960, Denpasar juga ditetapkan sebagai ibu kota bagi Provinsi Bali yang
semula berkedudukan di Singaraja. Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah
Nomor 20 Tahun 1978, Denpasar resmi menjadi “Kota Administratif Denpasar”, dan
seiring dengan kemampuan serta potensi wilayahnya dalam menyelenggarakan
otonomi daerah, pada tanggal 15 Januari 1992, berdasarkan Undang-undang Nomor 1
Tahun 1992. Kota Denpasar juga ditingkatkan statusnya menjadi “kotamadya” yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 27 Februari 1992.
Kota Denpasar memiliki banyak peranan, salah satunya sebagai pusat segala
aktivitas baik dalam bidang ekonomi maupun dalam bidang kebudayaan. Pulau Bali
di mata dunia internasional sejak zaman penjajahan Belanda sudah dikenal dengan
kebudayaannya yang menarik. Hal ini termasuk berbagai macam dan bentuk
kesenian, upacara keagamaan serta adat-istiadatnya yang menarik bagi para
wisatawan asing maupun wisatawan dalam negeri. Demikian pesatnya arus wisatawan
ke Bali menyebabkan Kota Denpasar sebagai jantung Pulau Bali hingga kini.
Berdasarkan sejarah kota Denpasar, perang Puputan Badung 20 September 1906 merupakan fakta sejarah tak terbantahkan tentang jiwa kepahlawanan dan kemanunggalan raja dan rakyat Badung. Hal ini akan tetap abadi tidak saja dalam catatan sejarah perjalanan negeri ini, namun juga dalam hati sanubari rakyat di seluruh negeri. Perang yang menelan banyak korban jiwa itu patut menjadi suri teladan tidak hanya bagi rakyat Badung, namun bagi seluruh insan tanah air di masa kini, untuk senantiasa berjuang mencapai cita-cita kemerdekaan Bangsa Indonesia sampai titik darah penghabisan. Sikap pejuang mencerminkan sikap mendalam yang dijiwai oleh nilai-nilai luhur, yaitu ksatria sejati, rela berkorban demi kedaulatan dan keutuhan negeri, membela kebenaran dan keadilan. Tak terlupakan sebagai generasi bangsa Indonesia mengharuskan kita terus untuk bangga dan melestarikan berbagai macam dan bentuk kesenian, upacara keagamaan serta adat-istiadat di kota Denpasar.






wahh, teksnya terstruktur sekalii. mungkin warna dari teksnya bisa disamakan. keseluruhan sudah mantap pol sii! semangat teruss
BalasHapusDi Bali kota Denpasar ..masyarakat Budaya beragam.apa yang dilakukan masyarakat disana baik budaya, seniman,hiburan,wisata itu terbuka. Bali Denpasar kota yang sangat penuh toleransi๐
BalasHapuskota bali! sangat menarik untuk dibaca!
BalasHapusSejarah nya sangat lengkap dan sudah menggunakan struktur dengan tepat
BalasHapusKeren banget nih kota Bali! Sejauh ini, untuk struktur sudah sesuai. Tapi, boleh diperhatikan lagi untuk tanda baca. Oh iya, kalau bisa font style dan font color nya disamakan, agar menjadi rapi. Ada tambahan, berdasarkan KBBI, Kyai itu tulisannya Kiai yaa. Selebihnya sudah bagus, Good Job ๐❤
BalasHapuswahh menarik sekali kota bali penyampaian nya juga mudah di mengerti
BalasHapuswihhh sejarah tentang Denpasarnya sangat lengkap yaaa, selain lengkap teksnya terstruktur yaaa
BalasHapusWow keren banget, informasinya lengkap banget, dan struktur dan pargarafnya juga rapih dan lengkap, gambarnya pun beragam, jadi unik untuk dilihat,pokoknya bagus deh
BalasHapuswahh sangat menarik nih teks sejarah kota denpasar! dari semua sisi sudah bagus dan lengkap banget. Mudah dibaca dan dimengerti juga. Good job author ๐๐ป
BalasHapusTeks sejarahnya lengkap, jadi menambah wawasan tentang kota bali. Untuk struktur dan kaidah kebahasaan menurut saya sudah sangat baik. Semangat
BalasHapusTeksnya sangat lengkap dan menambah wawasan baru mengenai kota Denpasar
BalasHapus