Selasa, 28 September 2021

TEKS SEJARAH KOTA DENPASAR

Kota Denpasar

Kota Denpasar merupakan ibu kota dari provinsi Bali, Indonesia. Denpasar merupakan kota terbesar di Kepulauan Nusa Tenggara dan kota terbesar kedua di wilayah Indonesia Timur setelah Kota Makassar. Hingga kini, kota Denpasar terkenal sebagai pusat pariwisata yang terletak dekat pelabuhan atau Bandar Udara lnternasional Ngurah Rai Kota Denpasar dan mengalami perkembangan yang cukup pesat. Kota Denpasar berada pada ketinggian 0-75 meter dari permukaan laut, sementara luas wilayah Kota Denpasar 127,78 km² atau 2,18% dari luas wilayah Provinsi Bali.

Kota Denpasar berasal dari 2 kata yaitu "den" yang berarti utara dan "pasar" yang berarti pasar sehingga secara keseluruhan bermakna "Utara Pasar". Asal kata ini menunjukkan asal kota sebagai kota pasar, di tempat yang sekarang disebut Pasar Kumbasari atau sebelumnya di kenal sebagai "Peken Payuk", di bagian utara kota modern. Ada pun pandangan lainnya yang dilansir dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bahwa asal usul nama Kota Depasar tersebut mengingatkan pada suatu pola letak istana (puri) yaitu letak sebuah puri selalu berada di sebelah utara pasar. Konon, nama Denpasar ini diambil berdasarkan letak puri yang selalu berada di sebelah utara pasar.

Awal mulanya kota Denpasar adalah sebuah taman, akan tetapi taman tersebut tidak seperti taman pada umumnya. Hal ini karena taman tersebut merupakan taman kesayangan dari Raja Badung saat itu, Kyai Jambe Ksatrya. Pada waktu itu, Kyai Jambe Ksatrya tinggal di Puri Jambe Ksatrya, yang kini menjadi Pasar Satria. Taman ini sangat unik karena dilengkapi dengan tempat untuk bermain adu ayam (tajen). Dahulu kala, Kyai Jambe Ksatrya memiliki kegemaran bermain adu ayam. Oleh karena itu, tidak jarang sang raja mengundang raja-raja lainnya di Bali untuk bermain adu ayam di taman tersebut.

Kota Denpasar didirikan oleh I Gusti Ngurah Made Pemecutan yang merupakan keturunan dari Puri Pemecutan. Sebelumnya wilayah kota Denpasar merupakan pusat dari Kerajaan Badung, sebuah Kerajaan Hindu Majapahit yang berdiri sejak abad ke-18 sampai dengan abad ke-19. Dahulu kala, Kerajaan Badung dipimpin oleh dua kerajaan yaitu Puri Pemecutan dan Puri Jambe Ksatrya. Menurut peneliti sejarah kota Denpasar yang juga Guru Besar Sejarah Fakultas Sastra Unud, AA Bagus Wirawan, di saat itu terdapat dua puri yang menandakan adanya dua pemerintahan yaitu Puri Alang Badung dan Puri Pemecutan. Kedua pemerintahan tersebut sebenarnya dipimpin oleh keturunan yang sama, yaitu Kyai Jambe Pule. Pembagian dari keduanya pun dibagi per wilayah, dengan wilayah barat Tukad Badung yang dipimpin oleh Puri Pemecutan, sedangkan sebelah timur Tukad Badung pimpin oleh Puri Jambe Ksatrya.

Taman yang dibangun oleh Kyai Jambe Ksatrya yang kemudian dikenal sebagai Denpasar diambil alih dan dikembangkan sebagai pusat kekuasaan I Gusti Ngurah Made Pemecutan. I Gusti Ngurah Made Pemecutan menjadikan taman Denpasar sebagai lokasi puri. Akan tetapi Puri Denpasar dihancurkan oleh kolonialisme Belanda ketika terjadinya Perang Puputan Badung. Perang puputan bermula dari kandasnya kapal berbendera Belanda milik Kwee Tek Tjiang, Sri Kumala, di Pantai Sanur, malam hari 27 Mei ke dini hari 28 Mei 1904. Atas kandasnya kapal, Belanda menuduh penduduk desa di sekitar pantai itu menjarah muatan kapal. Dengan alasan penjarahan kapal, pemerintah kolonial Belanda menuntut raja Badung untuk membayar 3.000 ringgit. Namun, Raja Badung menolak. Raja Badung meyakini apa yang dilakukan tidak melanggar aturan.

Singkat cerita, penolakan Raja Badung segera dijawab dengan aksi militer. Tak bisa dipungkiri bahwa peristiwa Sri Kumala itu hanya sekadar alasan untuk melancarkan ekspedisi militer terhadap Badung. Tujuan Belanda sebenarnya adalah mewujudkan kekuasaan tertinggi atas semua daerah yang menolak tunduk, untuk melaksanakan kebijakan belanda “Pax Neerlandica”. Kendati demikian, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Joannes Benedictus van Heutsz (1904–1909) mengirim surat lebih dulu kepada Menteri Jajahan pada oktober 1905. Isi surat tersebut tak lain untuk meyakinkan sang menteri bahwa Raja Badung perlu menyadari pemerintah Hindia-Belanda adalah “penguasa sesungguhnya yang harus dipatuhi.”

Pada tanggal 14 September 1906, sepasukan tentara dengan kekuatan substansial dari Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger, diberi nama Sixth Military Expedition, mendarat di bagian utara pantai Sanur, dipimpin Mayor Jenderal M.B. Rost van Tonningen. Tentara Badung melakukan beberapa serangan terhadap bivak Belanda di Sanur pada 15 September, dan ada beberapa perlawanan lagi di desa Intaran. Raja Badung dari Puri Pemecutan, I Gusti Made Ngurah Pemecutan, memerintahkan untuk membakar Puri sebelum melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda.

Pasukan Belanda mendarat di Sanur, 1906.

Pasukan berbaris ke Denpasar, Bali, seolah-olah sedang berpawai. Mereka mendekati istana kerajaan, melihat asap mengepul dari puri dan mendengar genderang ditabuh liar yang berasal dari dalam tembok istana. Pasukan Belanda bergerak maju mendekati Puri Pemecutan. Setelah mereka mencapai istana, prosesi tanpa suara muncul, dipimpin oleh Raja yang disungsung oleh empat pembawa tandu. Raja itu mengenakan pakaian kremasi putih tradisional, memakai perhiasan yang indah, dan membawa keris upacara. Orang-orang lain dalam prosesi itu terdiri dari para pejabat, penjaga, pendeta, istri, anak-anak dan pengawal Raja, yang semuanya berpakaian serupa. Mereka telah menerima ritus kematian, berpakaian putih, dan keris ritual mereka diberkati. Semuanya bergerak menyongsong kehadiran pasukan Belanda. Tembakan gencar kemudian dilepaskan pasukan belanda yang bertujuan membebaskan jalan didepannya dari serangan mendadak laskar Badung karena sejumlah laskar semakin mendekati kedudukan pasukan Belanda. Rombongan raja bergerak secara perlahan mendekati pasukan Belanda. Setelah posisi mereka sangat dekat dengan posisi pasukan Belanda, raja dan pasukannya bergerak semakin cepat dan langsung menerjang pasukan Belanda.

Keberlangsungan Perang Puputan Badung

Para prajurit Bali yang luka ringan pun menikam sampai mati rekan-rekan mereka yang terluka berat. Sedangkan kaum wanita mencoba membuka dada untuk mengakhiri hidupnya. Ada pun sebagian para wanita melemparkan perhiasan dan koin emas ke pasukan Belanda sebagai bentuk upah kematian mereka. Sebuah 'tembakan tak terarah' dan 'serangan dengan tombak dan tombak' mendorong Belanda untuk melepaskan tembakan dengan senapan dan artileri. Semakin banyak orang yang keluar dari istana, gundukan mayat semakin tinggi. Seluruh prosesi ini diikuti ratusan orang, dan dikatakan ada lebih dari 1.000 orang secara keseluruhan. Korban bertambah akibat tembakan Belanda.

Sejarah mencatat bahwa Belanda pertama kali menembaki orang Bali yang bergerak keluar dari gerbang istana, hanya dilengkapi dengan keris, tombak dan perisai tradisional, dan bahwa yang selamat bunuh diri, atau dibunuh oleh pengikutnya sesuai dengan perintah puputan. Para prajurit menelanjangi barang-barang berharga dan menjarah reruntuhan istana yang terbakar. Istana Denpasar rata dengan tanah. Sore pada hari yang sama, peristiwa serupa terjadi di dekat istana Pemecutan, tempat tinggal wakil penguasa I Gusti Made Ngurah. Belanda membiarkan bangsawan di Pemecutan bunuh diri, dan dilanjutkan dengan penjarahan. Pada pertarungan sengit itulah raja dan pasukannya gugur satu per satu. Akhirnya perlawanan laskar Badung di Pemecutan yang merupakan benteng terakhir terhenti. Belanda berhasil menduduki Puri Pemecutan.

Perang Puputan Badung, Denpasar, Bali

Kerajaan tersebut ditundukan oleh Belanda pada tanggal 20 September 1906, dalam sebuah peristiwa heroik yang dikenal dengan Perang Puputan Badung. Pembantaian ini dikenang dan dimuliakan sebagai bentuk keputusan dan perlawanan  bersama terhadap agresi asing untuk mempertahankan kedaulatan dari kolonial Belanda. Pada 12 November 1997, didirikan sebuah monumen perunggu besar ditinggikan di alun-alun kota Denpasar, tempat istana kerajaan dahulu berdiri, yang mengagungkan perlawanan Bali di Puputan, yang kemudian dikenal dengan “Monumen Puputan Badung”.

Monumen Puputan 1906 yang terletak di Taman Puputan, Denpasar, Bali

Ada pun monumen Bajra Sandhi yang didirikan untuk mengenang kejadian perlawanan di Bali. Museum Bajra Sandhi atau yang lebih dikenal sebagai monumen Bajra Sandhi adalah monumen yang melambangkan perjuangan rakyat Bali yang terletak di kota Denpasar, Bali. Monumen yang menempata tanah 13,8 hektar dengan luas gedung 4900 meter ini dirancang oleh Ir. Ida Gede pada tahun 1981. Pembangunan monumen mulai dilakukan pada tahun 1987 atas prakarsa mantan Gubernur Bali, Ida Bagus Mantra. Pada tanggal 14 Juni 2003, monumen baru diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri.

Museum Bajra Sandhi, Denpasar, Bali

Setelah kemerdekaan Indonesia, berdasarkan Undang-undang Nomor 69 Tahun 1958, Denpasar menjadi ibu kota dari pemerintah daerah Kabupaten Badung. Selanjutnya berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor Des.52/2/36-136 tanggal 23 Juni 1960, Denpasar juga ditetapkan sebagai ibu kota bagi Provinsi Bali yang semula berkedudukan di Singaraja. Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1978, Denpasar resmi menjadi “Kota Administratif Denpasar”, dan seiring dengan kemampuan serta potensi wilayahnya dalam menyelenggarakan otonomi daerah, pada tanggal 15 Januari 1992, berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1992. Kota Denpasar juga ditingkatkan statusnya menjadi “kotamadya” yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 27 Februari 1992.

Kota Denpasar memiliki banyak peranan, salah satunya sebagai pusat segala aktivitas baik dalam bidang ekonomi maupun dalam bidang kebudayaan. Pulau Bali di mata dunia internasional sejak zaman penjajahan Belanda sudah dikenal dengan kebudayaannya yang menarik. Hal ini termasuk berbagai macam dan bentuk kesenian, upacara keagamaan serta adat-istiadatnya yang menarik bagi para wisatawan asing maupun wisatawan dalam negeri. Demikian pesatnya arus wisatawan ke Bali menyebabkan Kota Denpasar sebagai jantung Pulau Bali hingga kini.

Berdasarkan sejarah kota Denpasar, perang Puputan Badung 20 September 1906 merupakan fakta sejarah tak terbantahkan tentang jiwa kepahlawanan dan kemanunggalan raja dan rakyat Badung. Hal ini akan tetap abadi tidak saja dalam catatan sejarah perjalanan negeri ini, namun juga dalam hati sanubari rakyat di seluruh negeri. Perang yang menelan banyak korban jiwa itu patut menjadi suri teladan tidak hanya bagi rakyat Badung, namun bagi seluruh insan tanah air di masa kini, untuk senantiasa berjuang mencapai cita-cita kemerdekaan Bangsa Indonesia sampai titik darah penghabisan. Sikap pejuang mencerminkan sikap mendalam yang dijiwai oleh nilai-nilai luhur, yaitu ksatria sejati, rela berkorban demi kedaulatan dan keutuhan negeri, membela kebenaran dan keadilan. Tak terlupakan sebagai generasi bangsa Indonesia mengharuskan kita terus untuk bangga dan melestarikan berbagai macam dan bentuk kesenian, upacara keagamaan serta adat-istiadat di kota Denpasar. 


11 komentar:

  1. wahh, teksnya terstruktur sekalii. mungkin warna dari teksnya bisa disamakan. keseluruhan sudah mantap pol sii! semangat teruss

    BalasHapus
  2. Di Bali kota Denpasar ..masyarakat Budaya beragam.apa yang dilakukan masyarakat disana baik budaya, seniman,hiburan,wisata itu terbuka. Bali Denpasar kota yang sangat penuh toleransi๐Ÿ‘

    BalasHapus
  3. kota bali! sangat menarik untuk dibaca!

    BalasHapus
  4. Sejarah nya sangat lengkap dan sudah menggunakan struktur dengan tepat

    BalasHapus
  5. Keren banget nih kota Bali! Sejauh ini, untuk struktur sudah sesuai. Tapi, boleh diperhatikan lagi untuk tanda baca. Oh iya, kalau bisa font style dan font color nya disamakan, agar menjadi rapi. Ada tambahan, berdasarkan KBBI, Kyai itu tulisannya Kiai yaa. Selebihnya sudah bagus, Good Job ๐Ÿ˜˜❤

    BalasHapus
  6. wahh menarik sekali kota bali penyampaian nya juga mudah di mengerti

    BalasHapus
  7. wihhh sejarah tentang Denpasarnya sangat lengkap yaaa, selain lengkap teksnya terstruktur yaaa

    BalasHapus
  8. Wow keren banget, informasinya lengkap banget, dan struktur dan pargarafnya juga rapih dan lengkap, gambarnya pun beragam, jadi unik untuk dilihat,pokoknya bagus deh

    BalasHapus
  9. wahh sangat menarik nih teks sejarah kota denpasar! dari semua sisi sudah bagus dan lengkap banget. Mudah dibaca dan dimengerti juga. Good job author ๐Ÿ‘๐Ÿป

    BalasHapus
  10. Teks sejarahnya lengkap, jadi menambah wawasan tentang kota bali. Untuk struktur dan kaidah kebahasaan menurut saya sudah sangat baik. Semangat

    BalasHapus
  11. Teksnya sangat lengkap dan menambah wawasan baru mengenai kota Denpasar

    BalasHapus