Minggu, 31 Oktober 2021

Teks Editorial "Melestarikan Warisan Budaya Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19"

Melestarikan Warisan Budaya Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19

Kebudayaan merupakan salah satu peninggalan nenek moyang yang harus dijaga kelestariannya agar kebudayaan tersebut tetap utuh. Indonesia sendiri dikenal sebagai negara yang kaya akan kebudayaan. The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization menilai bahwa Indonesia adalah negara super power dalam hal kebudayaan. Pengakuan UNESCO itu disampaikan oleh Asisten Direktur Jendral UNESCO Bidang Budaya (ADG Culture) Fransesco Bandarin kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, di sela-sela menghadiri Sidang Umum UNESCO ke 39 yang berlangsung di Markas Besar UNESCO, Paris pada tanggal 14 November 2017. Keberagaman kondisi geografis dan latar belakang menjadikan masyarakat Indonesia memiliki berbagai warisan budaya. Begitu banyak kebudayaan di Indonesia yang memiliki keunik dilihat dari adat dan tradisi daerah-daerah yang ada di Indonesia. Banyak wisatawan asing ataupun domestik datang untuk melihat kebudayaan-kebudayaan unik yang ada di Indonesia.

Namun, hampir dalam 2 tahun terakhir sejak pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia membuat berbagai sektor yang terdampak, pariwisata dan ekonomi menanggung kerugian paling besar. Berdasarkan data BPS tahun 2021, total kunjungan wisatawan saat ini sebesar 1,061 juta kunjungan. Data tersebut menunjukkan terdapat penurunan jumlah wisatawan yang cukup signifikan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Kemudian, berdasarkan data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), total kerugian industri pariwisata Indonesia pada tahun 2021 mencapai lebih dari Rp 10 triliun. Selain itu, pandemi Covid-19 juga merubah berbagai tatanan kehidupan di dunia khususnya Indonesia seperti kesehatan, ekonomi, dan sosial budaya. Pemerintah melakukan berbagai upaya dalam memutus mata rantai penyebaran pandemi Covid-19 secara masif dan sistematis yaitu dengan mengeluarkan berbagai kebijakan seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar, karantina diberbagai wilayah, dan beberapa hal lain yang membatasi pergerakan masyarakat.

Pandemi Covid-19 dapat menjadi salah satu penghambat pelestarian warisan budaya di Indonesia. Perubahan pola hidup masyarakat akibat pandemi juga akan menimbulkan budaya baru yang cenderung akan melupakan warisan budaya lokal dikarenakan masyarakat Indonesia saat ini lebih tertarik mengonsumsi budaya asing. Pandemi Covid-19 memberi tantangan tersendiri dalam upaya pelestarian warisan budaya di Indonesia. Ira yang juga dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana mengatakan, pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia, membatasi mobilitas masyarakat demi mengurangi laju penularan. Keterbatasan tersebut menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi sektor budaya, khususnya seni pertunjukan. Hal demikian juga dikatakan oleh salah satu pemateri webinar Refleksi Kemerdekaan bertajuk Peran Antar Elemen dalam Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Dekan BEM Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Purnawan Basundoro, S.S., M.Hum., mengatakan “Kalau tidak aktif ditampilkan, produk kebudayaan akan hilang dan di masa depan nanti hanya dijadikan sebagai kajian. Jadi pandemi saat ini dapat mengancam eksistensi dari budaya kita apalagi ditambah banyaknya masyarakat yang mulai mengonsumsi budaya asing,” Jumat (20/8/2021).

Meskipun kegiatan pelestarian budaya Indonesia terhambat akibat pandemi Covid-19 namun hal ini tidak menutup kesempatan, terutama bagi generasi muda untuk tetap melestarikan budaya Indonesia. Salah satu cara untuk melestarikan budaya Indonesia di masa pandemi adalah dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Upaya untuk mengembangkan kreativitas dan menciptakan karya melalui media digital bisa menjadi solusi dan cara yang efektif untuk mengenalkan dan melestarikan budaya kepada generasi muda di masa pandemi ini. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah kolaborasi oleh para pelaku kreator seni yang tidak boleh menyurutkan niat melestarikan dan mengenalkan budaya kepada generasi muda. Suryandoro menceritakan, selama pandemi, sanggar seninya tidak berhenti untuk berkreasi. Sejumlah kegiatan dilakukan dengan memanfaatkan platform digital. Sejumlah pendekatan komunikasi juga dilakukan untuk mendekati kawula muda. “Kami coba memudakan budaya, khususnya wayang. Memudakan, dalam arti mengakrabkan budaya kepada anak muda. Pendekatan yang kami lakukan adalah dengan menjembatani gap generasi dengan cara dan gaya penyajian seni sehingga bisa diterima dan dinikmati oleh anak muda,” jelas Suryandoro.

Adapun upaya Traval.co sebagai platform pemesanan paket wisata online, bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk membuat program wisata virtual bertajuk “Virtual Heritage” sebagai bentuk pelestarian warisan budaya di Indonesia di tengah pandemi. Program tersebut mengangkat wisata tematik berbasis budaya dan wisata berbasis komunitas di delapan titik, mulai dari wilayah barat hingga timur. Selain itu, program Virtual Heritage akan mengangkat para komunitas tersebut sebagai local heroes dalam pelestarian dan pengembangan budaya di daerahnya masing-masing. Virtual Heritage bertujuan agar destinasi wisata yang dikelola komunitas-komunitas lokal lebih dikenal secara umum dan menjadi alternatif wisata di tengah pandemi. Harapannya, program ini dapat menjadi ajang berbagi inspirasi antar komunitas agar dapat membangun dan melestarikan warisan budaya Indonesia disetiap daerah. Dengan program ini, generasi bangsa berkesempatan untuk menjelajahi dan mempelajari ragam budaya Indonesia dengan nyaman di rumah meskipun keterbatasan oleh jarak.

Sementara itu, kesadaran peran anak muda juga menjadi hal penting dalam pelestarian warisan budaya Indonesia, khususnya di masa pandemi ini generasi bangsa mudah terjebak dengan era teknologi dan gadget. Berdasarkan hal tersebut seorang perempuan muda asal Kediri dengan semangat dan kesadaran akan perannya sebagai anak muda Indonesia menggelar sebuah festival budaya. Festival Budaya Nyawiji Bebudayan Ing Bhumi Panji tersebut digelar di Hotel Bukit Daun Kediri. Pelaksanaan festival digelar sesuai dengan protokol kesehatan yang ketat dan dengan pembatasan penonton di masa pandemi Covid-19. Festival budaya juga digelar juga secara online dengan memanfaatkan media digital yaitu menggunakan YouTube. Festival Budaya Nyawiji Bebudayan Ing Bhumi Panji ini merupakan ide dari Pokmas Kesenian Sekar Arum Kota Kediri, yang menampilkan kebudayaan Kota Kediri. Regina mengatakan “Festival budaya ini diharapkan bisa memberi edukasi masyarakat terkait pentingnya peranan anak muda dalam melestarikan budaya,” Minggu (31/10/2021).

Banyaknya upaya yang dapat generasi bangsa lakukan untuk melestarikan warisan budaya di tengah pandemi Covid-19 ini. Melalui media sosial, informasi tentang warisan budaya disampaikan dengan desain kekinian yang menarik bagi anak muda. Inovasi ini semakin mendekatkan masyarakat, khususnya anak muda untuk mengenal warisan budaya leluhur. Kebudayaan akan menjadi investasi yang mampu membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia apabila nilai warisan budaya semakin membumi dan mengakar di kalangan masyarakat yang kemudian dengan sendirinya mampu meningkatkan literasi, inovasi dan kreativitas masyarakat.

Pelestarian budaya tidak cukup hanya dari niat para pelaku kebudayaan tetapi semua elemen harus terlibat didalamnya. Salah satu contoh kecilnya yaitu dengan datang menonton salah satu pertunjukan dari budaya itu sendiri. Keseimbangan interaksi perlu dilakukan dalam pelestarian warisan budaya Indonesia di tengah pandemi. Dalam artian bahwa kita boleh saja menyukai budaya asing asalkan tidak berpaling sepenuhnya dan masih mau ikut partisipasi dalam melestarikan dan lebih mengenal budayanya sendiri agar tidak menjadi ancaman bagi pengembangan budaya Indonesia. Dengan demikian warisan budaya Indonesia juga mampu bersaing dengan budaya yang sangat global dan mampu berkontribusi terhadap perkembangan peradaban dunia. Bagaimanapun, warisan budaya adalah warisan yang perlu memperoleh perhatian dalam situasi apapun. Warisan budaya bukan hanya sekadar peninggalan bersejarah, melainkan investasi alam pikir dan alam rasa dari masa lampau yang perlu dilestarikan dan dikembangkan untuk masa kini dan masa yang akan datang. Kepedulian akan pelestarian dapat dilakukan dengan berkegiatan online, meningkatkan pengetahuan diri sendiri mengenai budaya yang ada di Indonesia dan memahami tujuan serta maksud dari budaya-budaya tersebut. Kondisi pandemi Covid-19 saat ini mengingatkan para generasi muda bangsa Indonesia untuk terus peduli terhadap warisan-warisan budaya dan ingin turut serta melestarikan budaya Indonesia. Dengan demikian, diharapkan kita semua dapat termotivasi untuk ikut serta melestarikan budaya Indonesia agar warisan budaya terus berlanjut kepada generasi bangsa Indonesia berikutnya.

Selasa, 28 September 2021

TEKS SEJARAH KOTA DENPASAR

Kota Denpasar

Kota Denpasar merupakan ibu kota dari provinsi Bali, Indonesia. Denpasar merupakan kota terbesar di Kepulauan Nusa Tenggara dan kota terbesar kedua di wilayah Indonesia Timur setelah Kota Makassar. Hingga kini, kota Denpasar terkenal sebagai pusat pariwisata yang terletak dekat pelabuhan atau Bandar Udara lnternasional Ngurah Rai Kota Denpasar dan mengalami perkembangan yang cukup pesat. Kota Denpasar berada pada ketinggian 0-75 meter dari permukaan laut, sementara luas wilayah Kota Denpasar 127,78 km² atau 2,18% dari luas wilayah Provinsi Bali.

Kota Denpasar berasal dari 2 kata yaitu "den" yang berarti utara dan "pasar" yang berarti pasar sehingga secara keseluruhan bermakna "Utara Pasar". Asal kata ini menunjukkan asal kota sebagai kota pasar, di tempat yang sekarang disebut Pasar Kumbasari atau sebelumnya di kenal sebagai "Peken Payuk", di bagian utara kota modern. Ada pun pandangan lainnya yang dilansir dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bahwa asal usul nama Kota Depasar tersebut mengingatkan pada suatu pola letak istana (puri) yaitu letak sebuah puri selalu berada di sebelah utara pasar. Konon, nama Denpasar ini diambil berdasarkan letak puri yang selalu berada di sebelah utara pasar.

Awal mulanya kota Denpasar adalah sebuah taman, akan tetapi taman tersebut tidak seperti taman pada umumnya. Hal ini karena taman tersebut merupakan taman kesayangan dari Raja Badung saat itu, Kyai Jambe Ksatrya. Pada waktu itu, Kyai Jambe Ksatrya tinggal di Puri Jambe Ksatrya, yang kini menjadi Pasar Satria. Taman ini sangat unik karena dilengkapi dengan tempat untuk bermain adu ayam (tajen). Dahulu kala, Kyai Jambe Ksatrya memiliki kegemaran bermain adu ayam. Oleh karena itu, tidak jarang sang raja mengundang raja-raja lainnya di Bali untuk bermain adu ayam di taman tersebut.

Kota Denpasar didirikan oleh I Gusti Ngurah Made Pemecutan yang merupakan keturunan dari Puri Pemecutan. Sebelumnya wilayah kota Denpasar merupakan pusat dari Kerajaan Badung, sebuah Kerajaan Hindu Majapahit yang berdiri sejak abad ke-18 sampai dengan abad ke-19. Dahulu kala, Kerajaan Badung dipimpin oleh dua kerajaan yaitu Puri Pemecutan dan Puri Jambe Ksatrya. Menurut peneliti sejarah kota Denpasar yang juga Guru Besar Sejarah Fakultas Sastra Unud, AA Bagus Wirawan, di saat itu terdapat dua puri yang menandakan adanya dua pemerintahan yaitu Puri Alang Badung dan Puri Pemecutan. Kedua pemerintahan tersebut sebenarnya dipimpin oleh keturunan yang sama, yaitu Kyai Jambe Pule. Pembagian dari keduanya pun dibagi per wilayah, dengan wilayah barat Tukad Badung yang dipimpin oleh Puri Pemecutan, sedangkan sebelah timur Tukad Badung pimpin oleh Puri Jambe Ksatrya.

Taman yang dibangun oleh Kyai Jambe Ksatrya yang kemudian dikenal sebagai Denpasar diambil alih dan dikembangkan sebagai pusat kekuasaan I Gusti Ngurah Made Pemecutan. I Gusti Ngurah Made Pemecutan menjadikan taman Denpasar sebagai lokasi puri. Akan tetapi Puri Denpasar dihancurkan oleh kolonialisme Belanda ketika terjadinya Perang Puputan Badung. Perang puputan bermula dari kandasnya kapal berbendera Belanda milik Kwee Tek Tjiang, Sri Kumala, di Pantai Sanur, malam hari 27 Mei ke dini hari 28 Mei 1904. Atas kandasnya kapal, Belanda menuduh penduduk desa di sekitar pantai itu menjarah muatan kapal. Dengan alasan penjarahan kapal, pemerintah kolonial Belanda menuntut raja Badung untuk membayar 3.000 ringgit. Namun, Raja Badung menolak. Raja Badung meyakini apa yang dilakukan tidak melanggar aturan.

Singkat cerita, penolakan Raja Badung segera dijawab dengan aksi militer. Tak bisa dipungkiri bahwa peristiwa Sri Kumala itu hanya sekadar alasan untuk melancarkan ekspedisi militer terhadap Badung. Tujuan Belanda sebenarnya adalah mewujudkan kekuasaan tertinggi atas semua daerah yang menolak tunduk, untuk melaksanakan kebijakan belanda “Pax Neerlandica”. Kendati demikian, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Joannes Benedictus van Heutsz (1904–1909) mengirim surat lebih dulu kepada Menteri Jajahan pada oktober 1905. Isi surat tersebut tak lain untuk meyakinkan sang menteri bahwa Raja Badung perlu menyadari pemerintah Hindia-Belanda adalah “penguasa sesungguhnya yang harus dipatuhi.”

Pada tanggal 14 September 1906, sepasukan tentara dengan kekuatan substansial dari Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger, diberi nama Sixth Military Expedition, mendarat di bagian utara pantai Sanur, dipimpin Mayor Jenderal M.B. Rost van Tonningen. Tentara Badung melakukan beberapa serangan terhadap bivak Belanda di Sanur pada 15 September, dan ada beberapa perlawanan lagi di desa Intaran. Raja Badung dari Puri Pemecutan, I Gusti Made Ngurah Pemecutan, memerintahkan untuk membakar Puri sebelum melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda.

Pasukan Belanda mendarat di Sanur, 1906.

Pasukan berbaris ke Denpasar, Bali, seolah-olah sedang berpawai. Mereka mendekati istana kerajaan, melihat asap mengepul dari puri dan mendengar genderang ditabuh liar yang berasal dari dalam tembok istana. Pasukan Belanda bergerak maju mendekati Puri Pemecutan. Setelah mereka mencapai istana, prosesi tanpa suara muncul, dipimpin oleh Raja yang disungsung oleh empat pembawa tandu. Raja itu mengenakan pakaian kremasi putih tradisional, memakai perhiasan yang indah, dan membawa keris upacara. Orang-orang lain dalam prosesi itu terdiri dari para pejabat, penjaga, pendeta, istri, anak-anak dan pengawal Raja, yang semuanya berpakaian serupa. Mereka telah menerima ritus kematian, berpakaian putih, dan keris ritual mereka diberkati. Semuanya bergerak menyongsong kehadiran pasukan Belanda. Tembakan gencar kemudian dilepaskan pasukan belanda yang bertujuan membebaskan jalan didepannya dari serangan mendadak laskar Badung karena sejumlah laskar semakin mendekati kedudukan pasukan Belanda. Rombongan raja bergerak secara perlahan mendekati pasukan Belanda. Setelah posisi mereka sangat dekat dengan posisi pasukan Belanda, raja dan pasukannya bergerak semakin cepat dan langsung menerjang pasukan Belanda.

Keberlangsungan Perang Puputan Badung

Para prajurit Bali yang luka ringan pun menikam sampai mati rekan-rekan mereka yang terluka berat. Sedangkan kaum wanita mencoba membuka dada untuk mengakhiri hidupnya. Ada pun sebagian para wanita melemparkan perhiasan dan koin emas ke pasukan Belanda sebagai bentuk upah kematian mereka. Sebuah 'tembakan tak terarah' dan 'serangan dengan tombak dan tombak' mendorong Belanda untuk melepaskan tembakan dengan senapan dan artileri. Semakin banyak orang yang keluar dari istana, gundukan mayat semakin tinggi. Seluruh prosesi ini diikuti ratusan orang, dan dikatakan ada lebih dari 1.000 orang secara keseluruhan. Korban bertambah akibat tembakan Belanda.

Sejarah mencatat bahwa Belanda pertama kali menembaki orang Bali yang bergerak keluar dari gerbang istana, hanya dilengkapi dengan keris, tombak dan perisai tradisional, dan bahwa yang selamat bunuh diri, atau dibunuh oleh pengikutnya sesuai dengan perintah puputan. Para prajurit menelanjangi barang-barang berharga dan menjarah reruntuhan istana yang terbakar. Istana Denpasar rata dengan tanah. Sore pada hari yang sama, peristiwa serupa terjadi di dekat istana Pemecutan, tempat tinggal wakil penguasa I Gusti Made Ngurah. Belanda membiarkan bangsawan di Pemecutan bunuh diri, dan dilanjutkan dengan penjarahan. Pada pertarungan sengit itulah raja dan pasukannya gugur satu per satu. Akhirnya perlawanan laskar Badung di Pemecutan yang merupakan benteng terakhir terhenti. Belanda berhasil menduduki Puri Pemecutan.

Perang Puputan Badung, Denpasar, Bali

Kerajaan tersebut ditundukan oleh Belanda pada tanggal 20 September 1906, dalam sebuah peristiwa heroik yang dikenal dengan Perang Puputan Badung. Pembantaian ini dikenang dan dimuliakan sebagai bentuk keputusan dan perlawanan  bersama terhadap agresi asing untuk mempertahankan kedaulatan dari kolonial Belanda. Pada 12 November 1997, didirikan sebuah monumen perunggu besar ditinggikan di alun-alun kota Denpasar, tempat istana kerajaan dahulu berdiri, yang mengagungkan perlawanan Bali di Puputan, yang kemudian dikenal dengan “Monumen Puputan Badung”.

Monumen Puputan 1906 yang terletak di Taman Puputan, Denpasar, Bali

Ada pun monumen Bajra Sandhi yang didirikan untuk mengenang kejadian perlawanan di Bali. Museum Bajra Sandhi atau yang lebih dikenal sebagai monumen Bajra Sandhi adalah monumen yang melambangkan perjuangan rakyat Bali yang terletak di kota Denpasar, Bali. Monumen yang menempata tanah 13,8 hektar dengan luas gedung 4900 meter ini dirancang oleh Ir. Ida Gede pada tahun 1981. Pembangunan monumen mulai dilakukan pada tahun 1987 atas prakarsa mantan Gubernur Bali, Ida Bagus Mantra. Pada tanggal 14 Juni 2003, monumen baru diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri.

Museum Bajra Sandhi, Denpasar, Bali

Setelah kemerdekaan Indonesia, berdasarkan Undang-undang Nomor 69 Tahun 1958, Denpasar menjadi ibu kota dari pemerintah daerah Kabupaten Badung. Selanjutnya berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor Des.52/2/36-136 tanggal 23 Juni 1960, Denpasar juga ditetapkan sebagai ibu kota bagi Provinsi Bali yang semula berkedudukan di Singaraja. Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1978, Denpasar resmi menjadi “Kota Administratif Denpasar”, dan seiring dengan kemampuan serta potensi wilayahnya dalam menyelenggarakan otonomi daerah, pada tanggal 15 Januari 1992, berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1992. Kota Denpasar juga ditingkatkan statusnya menjadi “kotamadya” yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 27 Februari 1992.

Kota Denpasar memiliki banyak peranan, salah satunya sebagai pusat segala aktivitas baik dalam bidang ekonomi maupun dalam bidang kebudayaan. Pulau Bali di mata dunia internasional sejak zaman penjajahan Belanda sudah dikenal dengan kebudayaannya yang menarik. Hal ini termasuk berbagai macam dan bentuk kesenian, upacara keagamaan serta adat-istiadatnya yang menarik bagi para wisatawan asing maupun wisatawan dalam negeri. Demikian pesatnya arus wisatawan ke Bali menyebabkan Kota Denpasar sebagai jantung Pulau Bali hingga kini.

Berdasarkan sejarah kota Denpasar, perang Puputan Badung 20 September 1906 merupakan fakta sejarah tak terbantahkan tentang jiwa kepahlawanan dan kemanunggalan raja dan rakyat Badung. Hal ini akan tetap abadi tidak saja dalam catatan sejarah perjalanan negeri ini, namun juga dalam hati sanubari rakyat di seluruh negeri. Perang yang menelan banyak korban jiwa itu patut menjadi suri teladan tidak hanya bagi rakyat Badung, namun bagi seluruh insan tanah air di masa kini, untuk senantiasa berjuang mencapai cita-cita kemerdekaan Bangsa Indonesia sampai titik darah penghabisan. Sikap pejuang mencerminkan sikap mendalam yang dijiwai oleh nilai-nilai luhur, yaitu ksatria sejati, rela berkorban demi kedaulatan dan keutuhan negeri, membela kebenaran dan keadilan. Tak terlupakan sebagai generasi bangsa Indonesia mengharuskan kita terus untuk bangga dan melestarikan berbagai macam dan bentuk kesenian, upacara keagamaan serta adat-istiadat di kota Denpasar. 


Sabtu, 07 Agustus 2021

Curriculum Vitae (Daftar Riwayat Hidup)

A.    Pengertian Daftar Riwayat Hidup

Daftar riwayat hidup merupakan dokumen pendamping surat lamaran kerja yang berisi informasi pribadi, pengalaman kerja, riwayat pendidikan, keahlian, prestasi, dan lain sebagainya. Daftar riwayat hidup juga seringkali disebut dengan curriculum vitae atau CV. Dokumen ini seringkali jadi syarat mutlak untuk persyaratan melamar pekerjaan. Cara mengisi daftar riwayat hidup setiap orang juga tak selalu sama. Namun format contoh daftar riwayat hidup bisa dikatakan cukup seragam. CV harus menjelaskan dengan detail mengapa Anda pantas untuk menempati posisi yang dilamar. Itu sebabnya, daftar riwayat hidup biasanya dilampirkan bersamaan dengan surat lamaran kerja. Beberapa instansi, baik pemerintahan maupun perusahaan swasta, terkadang juga menyediakan CV online yang bisa pelamar buat sesuai format.

B.    Ciri – Ciri Daftar Riwayat Hidup

Ada pun untuk karakteristik dari daftar riwayat hidup yang baik dan menarik yaitu:

1. Menggunakan bahasa yang formal dan sesuai EYD
2. Berisi informasi diri yang sesuai dengan pekerjaan yang dilamar
3. Menggunakan desain yang menarik namun tidak berlebihan
4. Rapi

C.    Jenis – Jenis Daftar Riwayat Hidup

Curriculum vitae atau daftar riwayat hidup dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

1. Curriculum Vitae berdasarkan urutan kronologis

    Jenis CV ini mengedepankan pendidikan dan pengalaman kerja dalam urutan kronologis, baik digunakan bila seseorang memiliki tipe perkerjaan yang sama sepanjang karir seseorang, sehingga CV model ini akan memperlihatkan perkembangan karir seseorang. Format susunan pada CV jenis ini lebih menarik karena dimulai dengan pengalaman kerja paling baru.

2. Curriculum Vitae berdasarkan keterampilan

    Jenis CV ini lebih terfokus pada keterampilan dibanding pengalaman kerja. Fungsinya yaitu untuk meyakinkan pemberi kerja bahwa seseorang mempunyai keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan tersebut. Jenis CV ini cocok untuk para fresh graduate dan orang yang ingin berganti pekerjaan ke bidang yang berbeda dengan bidang kerjanya dulu.

D.    Struktur Daftar Riwayat Hidup

      1. Judul.
2. Identitas, cantumkan identitas dengan jelas , seperti nama lengkap, jenis kelamin, tempat tanggal lahir, kewarganegaraan, status, tinggi, berat badan, alamat lengkap, nomor telepon, email, dll. Jangan lupa untuk menyertakan foto diri.
3. Pendidikan, cantumkan pendidikan formal dan nonformal, pelatihan yang pernah diikuti, lengkap dengan tahun masuk, tahun masuk, jurusan, jenjang studi dan nama lembaganya.
4. Kemampuan, uraikan secara singkat yang berhubungan dengan pekerjaan yang dilamar.
5. Pengalaman Kerja, cantumkan deskripsi singkat pekerjaan pada perusahaan sebelumnya , lengkap dengan prestasi, jenis pekerjaan, wewenang pekerjaan, sertakan juga periode kerja dan tahun memulai dan mengakhiri.
6. Pengalaman Organisasi, cantumkan bila relevan dengan pekerjaan.
7. Kemampuan lain yang menunjang, cantumkan pengalaman lain jika relevan dengan pekerjaan yang dilamar.
8. Buatlah dengan jujur dengan tidak memanipulasi kemampuan.

E.    Contoh Daftar Riwayat Hidup

Berikut di bawah ini tampilan daftar riwayat hidup atau curriculum vitae:

Surat Lamaran Pekerjaan

A.    Pengertian Surat Lamaran Pekerjaan

Surat lamaran kerja adalah surat yang digunakan oleh seseorang untuk melamar pekerjaan pada suatu organisasi atau lembaga yang membutuhkan karyawan pada perusahaan tersebut. Pada umumnya ketika melamar kerja, seseorang harus menulis surat lamaran kerja yang dilengkapi dengan data-data pendukung umum dan khusus, salah satu yang termasuk diantaranya adalah daftar riwayat hidup. Dalam surat lamaran kerja, dijelaskan berbagai kemampuan yang dimiliki oleh pelamar kerja yang cocok atau sesuai dengan posisi atau jabatan yang ditawar atau sesuai dengan kebutuhan perusahaan.  Surat lamaran pekerjaan memberikan semacam paparan yang menjelaskan sesuatu, mengemukakan tujuan, atau maksud penulis surat, menjelaskan apa yang dirasakan, serta menguraikan gagasan penulis surat. Surat lamaran pekerjaan yang ditujukan kepada sebuah lembaga tersebut disusun berdasarkan iklan lowongan pekerjaan yang dimuat di surat kabar, majalah, televisi, radio, dan sebagainya.

B.    Struktur Teks Surat lamaran Pekerjaan

    Dalam surat lamaran pekerjaan, terdapat unsur-unsur sebagai berikut:

1. Tempat dan tanggal penulisan surat
       2. Lampiran
       3. Hal atau perihal
       4. Alamat tujuan
       5. Salam pembuka
       6. Isi Surat (pembuka, isi, dan penutup)
       7. Salam Penutup
       8. Tanda tangan dan nama jelas pelamar
       9. Lampiran persyaratan yang ditentukan

C.    Contoh Surat Lamaran Pekerjaan